Bisakah kini aku kembali
merasakan saat-saat yang paling berharga di hidupku. Menghabiskan waktuku di
akhir Desember, membuka celah hatimu yang beku. Ingin ku, beri sedikit sinar
matahari yang hangat. Berasal dari hatiku untukmu. Mencairkan hatimu yang membeku
karena cinta. Tetapi, bukankah selama bulan Desember, hatimu juga seakan ikut
membeku. Matahariku yang hangat tak bisa mendobrak pertahananmu. Lelaki, dengan
sosok tampan yang membuat setiap wanita tak berkutik karena pesonanya. Dan, saat
kini dapat kuraih sosokmu, kau harus pergi untuk kewajibanmu. Membela negaramu
di perbatasan.
Sekarang, kau kembali masih di
bulan Desember yang beku. Tetapi, kulihat satu yang berbeda darimu. Sorot
matamu, kini tengah berubah hangat walaupun setiap waktumu kini hanya diisi
dengan kebekuan hati yang kuat. Sekarang kau kenakan pakaian yang sudah lama,
kau impikan. Membawa senjata di tangan. Dan, aku berharap masih akan bertemu
denganmu nanti. Saat dirimu kembali menjadi pribadi yang hangat walau kau kembali
di saat Desember yang beku itu lagi.
Ku kira, itu benar kau. Nyatanya,
hanya satu lembar foto keberangkatanmu yang ku punya saat ini. Mengiring
kepergianmu di Desember beku. Kau, bahkan tak kembali pulang untukku. Tetapi,
kembali pulang kepada-Nya untuk selamanya. Dan sekarang, hatikulah yang
membeku. Membeku karena cintamu yang hangat sudah mati meninggalkanku.