Sabtu, 19 Oktober 2013

Desember-ku



Bisakah kini aku kembali merasakan saat-saat yang paling berharga di hidupku. Menghabiskan waktuku di akhir Desember, membuka celah hatimu yang beku. Ingin ku, beri sedikit sinar matahari yang hangat. Berasal dari hatiku untukmu. Mencairkan hatimu yang membeku karena cinta. Tetapi, bukankah selama bulan Desember, hatimu juga seakan ikut membeku. Matahariku yang hangat tak bisa mendobrak pertahananmu. Lelaki, dengan sosok tampan yang membuat setiap wanita tak berkutik karena pesonanya. Dan, saat kini dapat kuraih sosokmu, kau harus pergi untuk kewajibanmu. Membela negaramu di perbatasan.
Sekarang, kau kembali masih di bulan Desember yang beku. Tetapi, kulihat satu yang berbeda darimu. Sorot matamu, kini tengah berubah hangat walaupun setiap waktumu kini hanya diisi dengan kebekuan hati yang kuat. Sekarang kau kenakan pakaian yang sudah lama, kau impikan. Membawa senjata di tangan. Dan, aku berharap masih akan bertemu denganmu nanti. Saat dirimu kembali menjadi pribadi yang hangat walau kau kembali di saat Desember yang beku itu lagi.
Ku kira, itu benar kau. Nyatanya, hanya satu lembar foto keberangkatanmu yang ku punya saat ini. Mengiring kepergianmu di Desember beku. Kau, bahkan tak kembali pulang untukku. Tetapi, kembali pulang kepada-Nya untuk selamanya. Dan sekarang, hatikulah yang membeku. Membeku karena cintamu yang hangat sudah mati meninggalkanku.

Present To My Mother



Sepagi ini, kulihat ibu sudah melangkahkan kakinya menuju tempat kerjanya. Sedangkan aku, hanya bisa diam melihatnya tanpa bisa mengantarnya hingga keluar pintu rumah. Kaki ini terasa begitu kaku, namun ada hal yang benar-benar harus aku lakukan untuk ibuku hari ini. Setelah kulihat lingkaran berwarna merah di kalender yang bergantung di samping almari pakaianku.

“Bu, bisakah saya bekerja disini sekedar mencuci piring hari ini saja.”

“Kamu? Yakin apa kamu bisa, jalan saja masih terseok-seok.”

“Yakin bu, bisakah? Hari ini ibu saya berulang tahun, saya ingin memberikannya hadiah kecil yang berasal dari jerih payah saya sendiri bu.”

“Baiklah, jangan sampai ada piring yang pecah satupun...!”

Kuselesaikan semua pekerjaanku hari ini. Aku masih memiliki sedikit waktu untuk mencari hadiah untuk ibuku. Kembali kulangkahkan kakiku yang kian kaku ini menelusuri jalanan untuk dapat menemukan hadiah yang tepat untuk ibuku. Dengan uang Rp.15.000 rupiah aku benar-benar tak boleh salah pilih. Kumencium wangi semerbak yang berasal dari deretan parfum yang tersusun rapi di etalase.

“Yap, mungkin ini hadiah yang tepat.”

Ibu pulang dari tempat kerjanya dengan senyum yang selalu terukir untukku.

“Bu, selamat ulang tahun. Maaf ya bu, Lina Cuma bisa kasih parfum ini untuk ibu. Semoga ibu senang menerimanya.”

“Tentu nak, terima kasih.”

“Sama-sama bu.”