Sabtu, 19 Oktober 2013

Desember-ku



Bisakah kini aku kembali merasakan saat-saat yang paling berharga di hidupku. Menghabiskan waktuku di akhir Desember, membuka celah hatimu yang beku. Ingin ku, beri sedikit sinar matahari yang hangat. Berasal dari hatiku untukmu. Mencairkan hatimu yang membeku karena cinta. Tetapi, bukankah selama bulan Desember, hatimu juga seakan ikut membeku. Matahariku yang hangat tak bisa mendobrak pertahananmu. Lelaki, dengan sosok tampan yang membuat setiap wanita tak berkutik karena pesonanya. Dan, saat kini dapat kuraih sosokmu, kau harus pergi untuk kewajibanmu. Membela negaramu di perbatasan.
Sekarang, kau kembali masih di bulan Desember yang beku. Tetapi, kulihat satu yang berbeda darimu. Sorot matamu, kini tengah berubah hangat walaupun setiap waktumu kini hanya diisi dengan kebekuan hati yang kuat. Sekarang kau kenakan pakaian yang sudah lama, kau impikan. Membawa senjata di tangan. Dan, aku berharap masih akan bertemu denganmu nanti. Saat dirimu kembali menjadi pribadi yang hangat walau kau kembali di saat Desember yang beku itu lagi.
Ku kira, itu benar kau. Nyatanya, hanya satu lembar foto keberangkatanmu yang ku punya saat ini. Mengiring kepergianmu di Desember beku. Kau, bahkan tak kembali pulang untukku. Tetapi, kembali pulang kepada-Nya untuk selamanya. Dan sekarang, hatikulah yang membeku. Membeku karena cintamu yang hangat sudah mati meninggalkanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar